Tugas Akhir Penciptaan Seni Musik oleh Jay Jay Lius

Tugas Akhir Penciptaan Seni Musik oleh Jay Jay Lius Public

vid@isi-ska.ac.id

2 weeks
2 Views
Want to watch this again later?
Sign in to add this video to a playlist. Login
Share 0 0

Share Video:

Category:
Description:
Sinopsis “ Tiratana “
“Ti-Lakkhana”
1“Ti” adalah tiga dan “Lakkhana” adalah permata yang terkandung dalam literatur Buddhisme yang meliputi dari tiga corak kehidupan yang mencengkeram segala sesuatu dalam semesta alam. Tidak ada sesuatu bentuk apapun bebas dari tiga corak kehidupan. Ti-Lakkhana merupakan tiga sifat umum yang pasti dimiliki oleh setiap fenomena yang terkondisi. Keberlangsungan dari fenomena adalah “diri” yang terkondisi dengan adanya “perasaan” yang muncul.

2. “Anicca”
“Ketidakkekalan” merupakan sebuah fenomena mendasar yang terdapat dalam semua eksistensi benda-benda. Dalam Dhammapada (277) : “Semua benda-benda yang ada bersifat sementara”. Semua hal terlibat dalam proses menjadi berkelanjutan, perubahan serta kematian. Bergerak kea rah usia tua, sakit, dan kematian yang merupakan fakta-fakta mendasar dari dunia fenomena.

“Anicca” merupakan esensi dari filsafat analitis Buddhisme yang diinterpretasi ke dalam karya musik instrumental kontemplatif. Karya musik “Anicca” menyampaikan pesan mengenai “Doktrin Jalan Tengah” (The Middle Doctrine). Inti dari “Jalan Tengah” bahwa segalanya merupakan sebuah “Proses Menjadi” (Becoming), karena dalam dunia Samsâra tidak ada momen yang statis. Perubahan dalam semua makhluk hidup selalu ditentukan oleh kondisi pra-eksistensi menurut hukum Karma.

3. “Dukkhata”
“Penderitaan” adalah fenomena hidup paling mendasar dalam dunia ini. Penderitaan menjadi ciri paling khas dari dunia dimana setiap makhluk hidup cenderung mengalami “derita”, yakni; kelahiran, usia tua, kesakitan dan kematian. Penderitaan merupakan sebuah fakta fisik dan mental dari kehidupan manusia, karena “derita” tertanam di dalam eksistensi semua makhluk hidup di dunia ini. Dalam Dhammapada (248) : “Semua yang berwujud terlibat dalam penderitaan”. Sumber utama penderitaan adalah “nafsu dan kesenangan inderawi manusia”.

4. “Anatta”
“Ketiadaan diri” merupakan aspek penting lainnya dalam literatur Buddhisme. “Anatta” (Non-Self) adalah tidak ada jiwa yang permanen dan kekal seperti substansi dalam diri manusia. Buddhisme menekankan bahwa sang “diri” (Self) bukan merupakan suatu entitas yang tidak berubah, tetapi sesungguhnya adalah “kosong (Empty).

5. “Kamma”
“Perbuatan” merupakan aspek penting lainnya dalam literatur Buddhisme. “Kamma” dapat diterjemahkan sebagai Samsâra “tumimbal- lahir” (reinkarnasi). Literatur Buddhisme mengajarkan bahwa dunia “Samsâra” adalah dunia “penderitaan” dan “ilusi”. Manusia membebaskan diri dari “Samsâra” untuk mencapai keselamatan.

Ajaran tentang “Samsâra” terkait erat dengan doktrin “Kamma”. Kamma dapat berarti hukum kuasalitas, kerja atau tindakan. Kondisi

seseorang dalam dunai “Samsâra” menjadi ciri “Kamma” kehidupan sebelumnya, karena “Kamma” menetukan masa depan seseorang.

Comments:

Comment
Up Next Autoplay